Dinsdag 21 November 2017

Home Unlabelled Seni Lukis Indonesia Seni Lukis Indonesia 4





 
Seni lukis modern Indonesia dimulai dengan masuknya penjajahan Belanda di Indonesia. Condongnya seni rupa Eropa Barat di zaman tersebut ke aliran romantis menyebabkan banyak pelukis Indonesia ikut memajukan aliran ini.
Salah satu yang beruntung mempelajari lukisan gaya Eropa yang di praktekkan pelukis Belanda ialah Raden Saleh Syarif Bustaman. Lalu Raden Saleh melanjutkan belajar melukis di Belanda, sampai akhirnya menjadi seorang pelukis Indonesia yang cukup disegani dan menjadi pelukis di beberapa istana Eropa.
Akan tetapi seni lukis Indonesia tidak melewati perkembangan yang sama di zaman renaisans Eropa, hingga akhirnya perkembangannya pun tanpa melewati tahapan yang sama. Era revolusi di Indonesia menyebabkan banyak pelukis Indonesia mengalihkan dari tema romantisme menjadi condong ke arah “Kerakyatan”.
Obyek yang bersangkutan dengan keindahan alam Indonesia diakui sebagai tema berkhianat kepada Bangsa, karena dianggap menjilat pada golongan kapitalis yang jadi musuh ideologi komunisme yang populer di masa itu.
Disamping itu, alat lukis semacam cat dan kanvas yang semakin sukar diperoleh membuat lukisan Indonesia condong ke bentuk yang lebih sederhana, sehingga melahirkan Abstraksi.
Gerakan Manifesto kebudayaan yang tujuannya melawan pemaksaan ideologi komunisme sehingga di zaman 1950 an lebih memilih untuk membebaskan karya seni dari suatu kepentingan politik, sehingga di era ekspresionisme dimulai.
Jadi lukisan bukan lagi sebagai media menyampaikan pesan atau sebagai alat propaganda. Perjalanan seni lukis Indonesia sejak dirintis oleh Raden Saleh sampai awal abad XXI ini merasa masih terombang ambing oleh berbagai macam konsepsi.
Kemapaman seni lukis Indonesia yang belum mencapai puncak kesuksesan telah diporak-porandakan oleh berbagai gagasan modernisasi yang menghasilkan seni alternatif maupun seni kontemporer, maka dengan munculnya seni konsep:”Performance Art” dan “Installation Art” yang pernah menjamur di pelosok kampus perguruan tinggi seni sekitar tahun 1993-1996.
Lalu muncul berbagai alternatif seperti “Kolaborasi” sebagai mode 1996/1997. Bersamaan itu pula seni lukis konvensional dengan bermacam-macam model menghiasi galeri-galeri, yang tidak lagi sebagai wujud apresiasi terhadap masyarakat, akan tetapi merupakan bisnis alternatif investasi.

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking