Saterdag 31 Desember 2016

Seni Lukis Indonesia


Seni lukis modern Indonesia dimulai dengan masuknya penjajahan Belanda di Indonesia. Condongnya seni rupa Eropa Barat di zaman tersebut ke aliran romantis menyebabkan banyak pelukis Indonesia ikut memajukan aliran ini.
Salah satu yang beruntung mempelajari lukisan gaya Eropa yang di praktekkan pelukis Belanda ialah Raden Saleh Syarif Bustaman. Lalu Raden Saleh melanjutkan belajar melukis di Belanda, sampai akhirnya menjadi seorang pelukis Indonesia yang cukup disegani dan menjadi pelukis di beberapa istana Eropa.
Akan tetapi seni lukis Indonesia tidak melewati perkembangan yang sama di zaman renaisans Eropa, hingga akhirnya perkembangannya pun tanpa melewati tahapan yang sama. Era revolusi di Indonesia menyebabkan banyak pelukis Indonesia mengalihkan dari tema romantisme menjadi condong ke arah “Kerakyatan”.
Obyek yang bersangkutan dengan keindahan alam Indonesia diakui sebagai tema berkhianat kepada Bangsa, karena dianggap menjilat pada golongan kapitalis yang jadi musuh ideologi komunisme yang populer di masa itu.
Disamping itu, alat lukis semacam cat dan kanvas yang semakin sukar diperoleh membuat lukisan Indonesia condong ke bentuk yang lebih sederhana, sehingga melahirkan Abstraksi.
Gerakan Manifesto kebudayaan yang tujuannya melawan pemaksaan ideologi komunisme sehingga di zaman 1950 an lebih memilih untuk membebaskan karya seni dari suatu kepentingan politik, sehingga di era ekspresionisme dimulai.
Jadi lukisan bukan lagi sebagai media menyampaikan pesan atau sebagai alat propaganda. Perjalanan seni lukis Indonesia sejak dirintis oleh Raden Saleh sampai awal abad XXI ini merasa masih terombang ambing oleh berbagai macam konsepsi.
Kemapaman seni lukis Indonesia yang belum mencapai puncak kesuksesan telah diporak-porandakan oleh berbagai gagasan modernisasi yang menghasilkan seni alternatif maupun seni kontemporer, maka dengan munculnya seni konsep:”Performance Art” dan “Installation Art” yang pernah menjamur di pelosok kampus perguruan tinggi seni sekitar tahun 1993-1996.
Lalu muncul berbagai alternatif seperti “Kolaborasi” sebagai mode 1996/1997. Bersamaan itu pula seni lukis konvensional dengan bermacam-macam model menghiasi galeri-galeri, yang tidak lagi sebagai wujud apresiasi terhadap masyarakat, akan tetapi merupakan bisnis alternatif investasi.

Vrydag 30 Desember 2016

Seni Lukis Zaman Pertengahan


Abad pertengahan merupakan masa kebangkitan awal karya-karya seni, terutama seni rupa di daratan Eropa. Periode ini berlangsung mulai tahun 476 Masehi, yaitu pada awal perkembangan agama Nasrani di Romawi. Sedangkan, tahun 1492 merupakan akhir dari berlangsungnya periode seni rupa zaman abad pertengahan atau klasik, yaitu pada saat diketemukannya benua Amerika.

Di zaman ini lukisan dimaksudkan untuk meniru semirip mungkin bentuk-bentuk yang ada di alam. Hal ini sebagai akibat berkembangnya ilmu pengetahuan dan dimulainya kesadaran bahwa seni lukis mampu berkomunikasi lebih baik daripada kata-kata dalam banyak hal. Selain itu, kemampuan manusia untuk menetap secara sempurna telah memberikan kesadaran pentingnya keindahan di dalam perkembangan peradaban. Seni lukis zaman klasik kebanyakan dimaksudkan untuk tujuan mitisme (sebagai akibat belum berkembangnya agama) dan propaganda (sebagai contoh graffiti di reruntuhan kota Pompei).

Karya-karya seni rupa abad pertengahan banyak dipengaruhi oleh corak budaya Yunani Purba dan Romawi yang menganut kepercayaan politheisme (menyembah banyak dewa). Sedangkan, karya-karya seni rupa yang bercorak agama Nasrani muncul di bawah tekanan bangsa Romawi, sehingga tidak dipungkiri bahwa lukisan, patung, dan karya seni rupa lainnya merupakan percampuran antara budaya Yunani dan Romawi dengan ajaran-ajaran Nasrani. Sebagai contoh, lukisan-lukisan yang terdapat pada dinding katakomba (goa-goa yang berisi kuburan). Pada dinding goa tersebut tergambar lukisan Nabi Isa yang dibuat seperti Orpheus yang dengan nyanyiannya menjinakan binatang buas. Burung bangau dalam mitos Yunani ditiru sebagai lambang keabadian, burung nuri sebagai lambang kebangkitan, roh-roh dilukiskan sebagai Dewi Psyche dari Yunani, Dewi Cinta sebagai Eros, bidadari sebagai Cupido bersayap, dan kebahagiaan di surga digambarkan sebagai orang-orang yang muda belia, dan sebagainnya.

Perkembangan budaya abad pertengahan yang berlangsung selama 12 abad telah menempatkan karya-karya seni rupa bercorak agama Nasrani sebagai karya tertinggi pada masa itu di Eropa. Berbagai teknik dalam karya seni rupa ditemukan dan dikembangkan lebih jauh. Misalnya teknik-teknik tempera, al fresco, al secco, mozaik, serta lukisan kaca berkembang dengan gemilang pada masa ini. Seluruh lukisan ini ditampilkan sebagai lukisan dinding dan lukisan kaca pada jendela-jendela bangunan suci, istana raja, serta rumah-rumah bangsawan.